sekolahyogyakarta.com

Loading

cerpen singkat tentang sekolah

cerpen singkat tentang sekolah

Cerpen Singkat Tentang Sekolah: Mengukir Kenangan di Bangku Pendidikan

1. Aroma Kapur dan Mimpi-Mimpi: “Papan Tulis Hati”

Di kelas 7A, aroma kapur selalu menyergap hidung setiap pagi. Papan tulis bukan sekadar media pembelajaran, melainkan kanvas mimpi bagi seorang anak bernama Budi. Budi bukan murid terpandai, namun semangatnya membara. Ia selalu duduk di barisan belakang, mengamati gurunya, Pak Hasan, dengan tatapan penuh kekaguman. Pak Hasan, guru matematika yang sabar, selalu memberikan motivasi, bukan hanya rumus-rumus rumit.

Budi sering menggambar di buku catatannya saat pelajaran sedang berlangsung. Bukan coretan iseng, melainkan sketsa-sketsa bangunan megah, jembatan kokoh, dan kota-kota futuristik. Ia bercita-cita menjadi arsitek. Namun, nilai matematikanya selalu pas-pasan. Ia merasa minder, takut mimpinya hanya akan menjadi angan-angan.

Suatu hari, Pak Hasan melihat sketsa Budi. Alih-alih marah, beliau tersenyum. “Budi, kamu punya bakat yang luar biasa. Tapi ingat, matematika adalah bahasa alam semesta. Kuasai matematika, maka kamu bisa mewujudkan semua bangunan impianmu.”

Kata-kata Pak Hasan menjadi penyemangat. Budi mulai belajar matematika dengan tekun. Ia meminta bantuan teman-temannya, dan bahkan belajar tambahan dari Pak Hasan sepulang sekolah. Perlahan, nilainya membaik. Ia mulai memahami logika di balik angka-angka.

Bertahun-tahun kemudian, Budi menjadi arsitek sukses. Ia merancang bangunan-bangunan ikonik di berbagai kota. Ia tak pernah melupakan Pak Hasan dan papan tulis di kelas 7A, tempat mimpinya pertama kali ditorehkan. Papan tulis itu bukan hanya media pembelajaran, melainkan papan tulis hati, tempat mimpi-mimpi diukir dengan tinta semangat dan keyakinan.

2. Persahabatan di Kantin: “Semangkuk Bakso dan Setia Kawan”

Kantin sekolah adalah jantung kehidupan sosial. Di sana, tawa riang, obrolan seru, dan aroma menggoda makanan bercampur menjadi satu. Bagi Ani, Rina, dan Sinta, kantin adalah saksi bisu persahabatan mereka.

Ani, si cerdas dan ambisius, selalu sibuk dengan buku-bukunya. Rina, si periang dan kreatif, selalu punya ide-ide menarik. Sinta, si pendiam dan penyayang, selalu menjadi penengah di antara mereka. Meskipun berbeda karakter, mereka saling melengkapi.

Setiap istirahat, mereka selalu memesan semangkuk bakso di warung Bu Ani. Bakso Bu Ani bukan hanya sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan mereka. Sambil menikmati bakso panas, mereka saling berbagi cerita, suka duka, dan impian masing-masing.

Suatu hari, Ani mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan studi di luar negeri. Ia merasa bimbang. Di satu sisi, ia ingin meraih mimpinya. Di sisi lain, ia tak ingin meninggalkan sahabat-sahabatnya.

Rina dan Sinta memahami dilema Ani. Mereka memberikan dukungan penuh. “Ani, kejar mimpimu! Kami akan selalu mendukungmu,” kata Rina. Sinta mengangguk setuju, “Persahabatan kita akan tetap abadi, meskipun jarak memisahkan.”

Ani akhirnya menerima beasiswa tersebut. Ia berjanji akan selalu menjaga komunikasi dengan Rina dan Sinta. Meskipun terpisah ribuan kilometer, persahabatan mereka tetap kuat. Setiap tahun, mereka selalu menyempatkan diri untuk bertemu dan bernostalgia di kantin sekolah, menikmati semangkuk bakso Bu Ani, dan mengenang masa-masa indah di bangku pendidikan.

3. Pertunjukan Seni dan Keberanian: “Panggung Impian”

Setiap tahun, sekolah selalu mengadakan pertunjukan seni. Bagi sebagian siswa, pertunjukan ini adalah ajang unjuk bakat. Namun, bagi Dino, pertunjukan ini adalah mimpi buruk. Dino adalah anak pemalu dan kurang percaya diri. Ia selalu menghindar dari kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang.

Namun, guru keseniannya, Bu Rina, melihat potensi tersembunyi dalam diri Dino. Bu Rina mendorong Dino untuk ikut serta dalam pertunjukan seni. Awalnya, Dino menolak. Ia takut gagal dan menjadi bahan ejekan.

Bu Rina tidak menyerah. Ia terus memberikan motivasi dan dukungan. Ia meyakinkan Dino bahwa setiap orang punya bakat tersembunyi, dan pertunjukan seni adalah kesempatan untuk menemukan dan mengembangkan bakat tersebut.

Akhirnya, Dino luluh. Ia memutuskan untuk ikut serta dalam pertunjukan seni, bukan sebagai pemain utama, melainkan sebagai penata panggung. Meskipun hanya berada di belakang layar, Dino merasa bangga bisa berkontribusi.

Saat hari pertunjukan tiba, Dino merasa gugup. Ia takut melakukan kesalahan. Namun, Bu Rina selalu berada di sisinya, memberikan semangat dan arahan. Dino bekerja keras untuk memastikan panggung tertata dengan baik.

Pertunjukan seni berjalan sukses. Semua orang terpukau dengan penampilan para siswa. Dino merasa lega dan bahagia. Ia berhasil mengatasi rasa takutnya dan membuktikan bahwa ia juga bisa berkontribusi.

Setelah pertunjukan selesai, Bu Rina menghampiri Dino. “Dino, kamu hebat! Kamu telah membuktikan bahwa keberanian bukan hanya tentang tampil di depan panggung, melainkan juga tentang berani keluar dari zona nyamanmu,” kata Bu Rina.

Dino tersenyum. Ia merasa bangga dengan dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa panggung impian bukan hanya tentang pertunjukan seni, melainkan juga tentang keberanian untuk mengejar mimpi dan mengatasi rasa takut.

4. Cinta Pertama di Perpustakaan: “Halaman-Halaman Hati”

Perpustakaan sekolah adalah tempat yang tenang dan damai. Bagi Rara, perpustakaan adalah tempat favoritnya. Ia suka membaca buku dan tenggelam dalam dunia imajinasi.

Suatu hari, saat sedang mencari buku di rak, Rara tidak sengaja menabrak seorang anak laki-laki. Buku-buku mereka berjatuhan. Rara merasa bersalah dan meminta maaf. Anak laki-laki itu tersenyum dan membantu Rara memungut buku-bukunya.

Anak laki-laki itu bernama Arya. Ia juga suka membaca buku. Mereka mulai sering bertemu di perpustakaan dan saling bertukar rekomendasi buku. Mereka menemukan banyak kesamaan dan merasa nyaman satu sama lain.

Rara mulai merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya. Ia merasa senang setiap kali bertemu Arya. Ia selalu memikirkan Arya. Ia jatuh cinta pada Arya.

Arya juga merasakan hal yang sama. Ia menyukai Rara karena Rara cerdas, baik hati, dan suka membaca buku. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di perpustakaan, membaca buku, dan berbagi cerita.

Suatu hari, Arya memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada Rara. Rara merasa bahagia dan menerima cinta Arya. Mereka menjadi sepasang kekasih.

Perpustakaan menjadi saksi bisu cinta pertama mereka. Mereka sering berkencan di perpustakaan, membaca buku bersama, dan saling berpegangan tangan. Cinta mereka tumbuh subur di antara halaman-halaman buku.

Meskipun hubungan mereka tidak bertahan lama, kenangan tentang cinta pertama di perpustakaan akan selalu terukir dalam hati mereka. Perpustakaan bukan hanya tempat membaca buku, melainkan juga tempat menemukan cinta dan mengukir kenangan indah.

5. Ujian Nasional dan Kebersamaan: “Lulus Bersama, Terbang Tinggi”

Ujian Nasional adalah momok bagi sebagian siswa. Mereka merasa tertekan dan takut gagal. Namun, bagi kelas 9A, Ujian Nasional adalah tantangan yang harus dihadapi bersama.

Mereka belajar bersama, saling membantu, dan saling menyemangati. Mereka membuat kelompok belajar dan membahas soal-soal latihan. Mereka juga meminta bantuan guru-guru mereka jika ada kesulitan.

Mereka tidak hanya belajar, tetapi juga menjaga kesehatan dan kebugaran. Mereka berolahraga, makan makanan bergizi, dan tidur yang cukup. Mereka menyadari bahwa kesehatan fisik dan mental sangat penting untuk menghadapi Ujian Nasional.

Saat hari Ujian Nasional tiba, mereka merasa gugup. Namun, mereka saling menguatkan dan mengingatkan satu sama lain untuk tetap tenang dan fokus. Mereka mengerjakan soal-soal dengan teliti dan hati-hati.

Setelah Ujian Nasional selesai, mereka merasa lega dan bahagia. Mereka telah melewati tantangan besar bersama-sama. Mereka berharap bisa lulus bersama dan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Pengumuman kelulusan tiba. Semua siswa di kelas 9A lulus dengan nilai yang memuaskan. Mereka merasa bangga dan bahagia. Mereka merayakan kelulusan mereka bersama-sama, sebagai bukti kebersamaan dan kerja keras mereka.

Mereka berjanji akan terus menjaga komunikasi dan persahabatan mereka, meskipun mereka akan melanjutkan studi di sekolah yang berbeda. Mereka akan terus saling mendukung dan menyemangati untuk meraih mimpi-mimpi mereka. Mereka lulus bersama dan siap terbang tinggi, meraih cita-cita mereka.